Jumat, 12 Desember 2014

TULISAN

Kupu-Kupu

Kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang merupakan julukan untuk mahasiswa yang tidak aktif mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Padahal seperti kita ketahui bahwa dengan mengikuti organisasi kita dapat memperoleh keterampilan softskill yang sangan dibutuhkan kelak dalan dunia kerja. Apabila kita mengikuti organisasi juga kita dapat mempunyai relasi-relasi dengan orang lain di luar sana yang kelak dapat kita gunakan untuk mencari pekerjaan ketika kita lulus nanti.
Selain itu dengan berorganisasi mahasiswa juga dapat dilatih untuk aktif. Menurut saya zaman sekarang banyak mahasiswa yang apatis, artinya dia tidak aktif atau tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Yang mereka pentingkan hanyalah IP yang bagus. Padahal kenyataannya dalam dunia kerja walaupun IP dia bagus tapi dia tidak mempunyai softskill yang bagus maka akan percuma saja. IP bagus hanyalah syarat berkas awal saat mendaftar pekerjaan. Selebihnya perusahaan menuntut untuk karyawannya dapat bekerja dalam tekanan, dapat bekerja dalam team, dapat mengoprasikan suatu program dan syarat-syarat lain yang menjurus ke softskill. Darimana kita mendapatkan kemampuan seperti itu apabila kita tidak pernah berorganisasi ? :)
Oleh karna itu saya menghimbau kepada seluruh mahasiswa di Indonesia, jadilah seorang mahasiswa yang aktif. Jangan menjadi mahasiswa yang apatis. Buka mata anda dan lihatlah sekitar anda begitu banyak hal baru yang dapat anda lakukan guna menambah pengalaman hidup anda. Isilah masa muda anda dengan hal-hal yang bermanfaat sehingga kelak di masa tua anda tidak menyesal. Dan satu hal yang perlu saya ingatkan bahwa organisasi boleh tapi IP harus tetap bagus karna mau bagaimana pun juga kuliah adalah tanggung jawab utama kita kepada orang tua kita.
Jadilah kaum muda sukses kawan !

REFERENSI : https://ditotomarunoto.wordpress.com/category/tulisan-softskill/ 

TULISAN

Menjauh bukan berarti melupakan


Kini bayangmu masih menghampiri, dikala ku berusaha untuk menghapus bayang itu. Kau terus singgah dipikiranku, meski dengan keras ku coba untuk tak memikirkanmu. Ya, menjauh bukan berarti melupakan. Aku menjauhimu bukan karena inginku, ini karena keadaan memaksaku melakukan ini. Aku menjauh, akupun yang menderita. Bahkan senyumanmu terus menggerayangi otakku, tak bisakah kau menyingkir? Menyingkirlah dari pikiran dan hatiku. Tak lelahkah kau terus menghampiri mimpiku? Apa aku yang terlalu memikirkanmu hingga dalam mimpi pun aku tak mau jauh darimu? Sungguh perasaan ini begitu menyiksa, bahkan hati ini pun tertusuk saat aku menahan diri untuk tak menghubungimu. Ya, aku tak tahan. Meski sudah berusaha keras, apalah dayaku? Aku yang selalu dikalahkan oleh perasaan ini, aku yang terus mengalah pada keegoisan hatiku. Mengapa begitu sulit untuk melupakan? Mengapa begitu sulit untuk menghapusmu dari hatiku? Mengapa kau tak kunjung pergi dari pikiranku?


Bodohkah aku? Ya, perasaan ini membuatku menjadi bodoh. Perasaan yang seharusnya tak kumiliki. Perasaan yang tak seharusnya kurasakan denganmu. Taukah kau? Secara diam-diam sorot mataku selalu mencarimu, hatiku begitu gelisah saat mata ini tak dapat melihatmu. Bahkan mata dan hatiku pun bersatu untuk membatalkan tekadku.


Kini akupun begitu tak konsisten. Serangkaian keputusan yang ku ambil kadang tak dapat ku jalankan. Ya, ini karena perasaanku berkata lain. Kadang aku mencoba tuk menghidarimu, tapi apa? Saat kau sedikit berubah dan acuh padaku, aku malah kembali mengejarmu. Kenapa perasaan tak secerdas logika? Mengapa logika ku seakan melemah saat itu berhubungan denganmu?


Taukah kau? Saat aku mengacuhkanmu ketika kau berada di hadapanku, secara diam-diam aku tetap memperhatikanmu. Aku tetap mencari bayangmu, saat kau melihatku aku beralih pandang, saat kau tak melihatku aku sedang mengenyangkan mataku dengan terus melihatmu. Akupun bingung dengan diriku sendiri, mengapa begitu bodoh? Mengapa aku mau menjadi budak cinta?


Kadang saat aku merindukanmu, aku mencoba mengingat kembali semua kenangan kita. Ya, kenangan yang terus melekat dan tak mau lepas. Namun, aku sudah berkomitmen dengan diriku sendiri. Saat aku mengingat akan komitmen itu akupun mulai mengalihkan otakku dari bayangmu. Ada hal yang mempermudahku tuk melupakanmu, itu adalah kenanganmu dengannya. Ya, kadang itu membantu sangat banyak. Karena setiap kali aku mengingat kenanganmu dengannya, hatiku seakan dapat menguatkan tekadku. Tekadku untuk melupakanmu.


Kini biarlah kau hilang, hilanglah dari hatiku, hilanglah dari otakku, hilanglah dari pikiranku. Biarkan perasaan ini luntur dengan sendirinya, biarkan perasaan ini dapat kembali seperti saat pertama kita bertemu. Saat aku belum mempunyai perasaan ini untukmu. Saat perasaanku benar-benar murni hanya untuk berteman. Kini aku terima jika kau ingin menjauhiku juga, ya aku terima jika kau sudah bosan dengan aku yang terus acuh. Mungkin jalan kita memang berbeda, biarkan aku belajar untuk melupakanmu, biar proses ini menuai hasil pada akhirnya. Sampai saat itu tiba, biarkan aku sesekali untuk mengenang kebersamaan kita.


REFERENSI :
http://imeldamwt.blogspot.com/2014/11/tulisan-softskill-3.html